Skip to content

Lillahi Ta’ala

29 September 2008

Lillahi ta’ala, secara sederhana dapat diartikan dengan “hanya karena Allah yang suci”. Kalimat ini bukan hanya menjadi ungkapan lisan tapi seharusnya menjadi prinsip dalam hidup dan kehidupan setiap hamba kepada Allah. Kalimat Lillahi ta’ala kerap muncul dalam setiap ibadah dalam Islam termasuk juga shalat. Dan biasanya kalimat Lillahi ta’ala (karena Allah), selalu diucapkan pada saat awal-awal melakukan suatu pekerjaan (ibadah); dalam hal ini disebut niat.

Allah menjadikan kita pada hakekatnya berfungsi sebagai khalifah-Nya diatas dunia ini. Tugas kekhalifahan inilah yang apabila dijalankan dengan semestinya dengan dilandasi oleh petunjuk-petunjuk yang Dia sampaikan dalam bentuk wahyu tekstual maupun pemahaman kita terhadap ayat-ayat universal-Nya, maka akan menjadi ibadah buat kita.

Sistematika kehidupan kita ini dimulai dari setetes mani yang bercampur untuk kemudian seiring dengan sunnatullah atau hukum alamnya, terus mengalami perkembangan tahap demi tahap sehingga menjadi sosok manusia sempurna. Itupun baru pada tahapan bayi kecil tak berdaya. Kemudin kita tunduk pada kaidah sunnatullah yang berproses sampai menjadi dewasa dan tua. Demikian seterusnya. Ini hendaknya menjadi bagian dari pembelajaran atas kedewasaan pola pikir dan pola pemahaman kita terhadap segala sesuatunya. Jika awalnya kita bertindak hanya karena ikut-ikutan, maka mulailah kita belajar kenapa kita melakukan sesuatu atau kenapa kita harus mempercayai sesuatu itu sebagai sebuah kebenaran. Demikian pula misalnya dalam hal ibadah, jika sebelumnya kita beribadah hanya karena mengharap surga atau takut karena neraka, maka belajarlah untuk mulai menyikapi fenomena surga dan neraka sebagai motivator kita kepada tingkat ibadah yang lebih tinggi lagi yaitu tingkat ibadah yang hanya berharap ridho-Nya Allah. Dengan demikian, maka tingkat keikhlasan kita beribadahpun secara berangsur-angsur tumbuh dengan sendirinya. Karena yang ada dipikiran kita selama ini, ibadah itu untuk menyenangkan Allah dan bukan untuk menyenangkan diri kita.

Salah atau tidak akhirnya kembali kepada seberapa jauh good-will kita melakukannya. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan surga dan nerakanya, tapi mulailah kita belajar untuk mencapai maqam lebih tinggi dari sekedar itu. Anggaplah ibadah karena mengharap pahala tertentu itu adalah ibadahnya anak kecil, dan karena kita sudah tidak lagi kecil, maka kitapun harus meng-update sasaran ibadah kita. Demikianlah yang seharusnya seperti yang tercantum dalam surah 6 ayat 162. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Robb semesta alam” – Qs. al-An’am 6:162

Abu Sangkan
[sumber: milis dzikrullah@yahoogroups.com]

Iklan
3 Komentar
  1. Irma permalink

    Asslamualaikum. Ust bagaimna cara kta tetap fokus dan niat kta tetap niat solat. Karna kadang fikirn kta nglantur kmana2. Dan akhirna kta lupa sudh rakat kbrapa? Kurang lebihna saya mohon maaf. Terima kasih.

  2. diki permalink

    orang bilang,..
    kalau ingin khusu saat sholat, belajarlah khusu di luar sholat.
    kuncinya ada pada dzikir khofi dan ridlo yg tertanam dari “kalimah ikhlash-kalimah tauhid-kalimah toyyibah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: