manusia pada dasarnya diberikan Allah pendengaran, penglihatan dan hati (lihat QS. 46. Al Ahqaaf: 26).
hati merupakan pusat kecerdasan, dalam hati juga pada hakikatnya pengetahuan2 itu berada.
apa yang kita dengar, kita lihat, kita lakukan, semuanya terekam dalam otak. bila dipandang dari sisi kejiwaan, sebenarnya semua pengetahuan tersebut disimpan oleh hati (jiwa) sampai dibawa ke akhirat sana.
berkaitan dengan dejavu, atau sesuatu yang “pernah kita alami sebelumnya”, menurut saya itu adalah hasil kerja otak yang mengolah informasi-informasi yang tersimpan di dalamnya (otak dan hati menurut saya mempunyai hubungan yang amat erat, atau bisa dikatakan pula otak merupakan representasi dari hati, ada penelitian yang menyatakan –saya lupa sumbernya– bahwa ‘perasaan’ merupakan aktifitas dari otak, karena ada aktifitas otak tertentu ketika manusia memainkan perasaannya.)
dalam ajaran islam, hati itu telah diberikan pengetahuan oleh Allah, sejak dahulu kala, sejak kita baru diciptakan di alam ruh. (lihat QS. 75. Al Qiyaamah: 14)
dari dulu, bahkan dari kita dalam kandungan, kita menerima berbagai informasi, ketika kecil kita pun menerima berbagai informasi hingga saat ini pun kita menerima berbagai informasi.
saya mengambil kesimpulan bahwa dejavu adalah hasil kerja otak yang mengolah informasi-informasi dari otak (jiwa), yang mengkombinasikannya sedemikian rupa sehingga menghasilkan informasi yang (hampir) mirip dengan yang kita rasakan sekarang.
contohnya coba anda mengulang2 melalui suatu jalan yang sama selama satu tahun. kemudian, anda “lupakan” selama 5 tahun, lalu tahun ke 6 anda melalui kembali jalan tersebut. apakah anda akan merasakan “dejavu”??
namun kesimpulan tersebut bukanlah berarti kebenaran mutlak, masih ada (mungkin) kebenaran yang lebih benar. silakan baca: WYBIWYG
22 April 2008 at 1:21 |
Saya juga merasakan dejavu. Sebelumnya saya rasa ia datang dari masa lalu reinkarnasi saya, tapi saya kemudian membaca artikel ilmiah mengenainya dan setuju sekali. Saya menguji penjelasan mereka pada pengalaman de javu saya kemudian, dan mereka benar! Mereka mengatakan bahwa kita secara genetik memiliki mekanisme yang membantu kita membedakan satu peristiwa dari peristiwa lain yang hampir sama. Sebagai contoh, anda pergi ke restoran yang sama untuk kedua kalinya dalam sebulan setelah anda pergi kesana sebelumnya, anda pergi ke sana dengan teman yang sama dan memesan makanan yang sama. Bagaimana anda tahu itu bukan dejavu? Karena pikiran anda memilih perbedaannya (mungkin topik pembicaraan yang berbeda, atau terakhir kalinya memkan sayur). Jadi, kita secara genetik di program untuk membuat rekaman perbedaan ibi, maka pikiran kita secara normal memberi tahu kita bahwa keduanya peristiwa yang berbeda. Sat mekanisme ini tidak bekerja (kadang memang terjadi), kita mengalami deja vu. Kita benar2 ingat bhwa itu terjadi di masa lalu, nmun berbeda dalam banyak hal – kita hanya mengenali persamaannyadan berpikir bahwa hal yang tepat sama telah terjadi. Saya menguji ini pada diri saya sendiri, dan saya mengingat bahwa peristiwa ini telah pernah terjadi, namun saya juga mengingat perbedaannya.
23 April 2008 at 11:16 |
@daeng: ada referensi urlnya? kalimat dengan kata kerja pasif (diprogram), tentu dapat dibalik menjadi kalimat aktif. dalam kalimat aktif terdapat “subjek” yang melakukan “memprogram”, kalau bukan TUHAN (ALLAH SWT) yang “memprogram” (gen), siapa lagi??
3 May 2008 at 2:27 |
Yang memprogram gen bukan siapa2 tapi mekanisme evolusi.
A Theory on the Deja Vu Phenomenon
Explaining Déjà Vu
6 May 2008 at 1:24 |
“Dejavu” ….
Jadi inget film dejavu-nya mas Denzel Washington.
Kayaknya orang bule masih bingung def. waktu yach mas !
Syukurlah muslimin wal muslimat memahami makna … “Demi Waktu”.
7 May 2008 at 11:39 |
bisa dikaitkan dengan ilmu fisika…cepat rambat suara…
radio komunikasi yang merambat klo kita tahu waktu-waktu tertentu, maka kita bisa menangkap suara yang kita bunyikan beberapa tahun silam..
…nice artikel zul
ditunggu versi RPGnya yah…
8 May 2008 at 3:41 |
@daeng
.
yang menciptakan “mekanisme evolusi” itu siapa? apakah “kebetulan”? bila Ya, logika saya tidak bisa menerima bahwa “mekanisme evolusi” itu diciptakan “kebetulan”.
Tidak akan ada sesuatu di alam semesta tanpa ada yang menciptakannya –Yang mengadakan kemudian menyempurnakan.
bila ada pertanyaan “siapakah yang menciptakan ‘pencipta’?” saya akan menjawab, itu di luar ilmu pengetahuan saya. Karena menurut pandangan saya, segala yang kita telaah haruslah ada batasannya dan titik tolaknya (harus berangkat dari angka 1)
@haniifa
dalam film itu ada mesin waktunya ya?
pemahaman itu kan erat kaitannya dengan hati mas
@arizane
dosen gwe juga pernah bilang macam gitu
8 May 2008 at 4:18 |
@All
1. Jika mati = 0, hidup = 1, saya mohon bantuan untuk memahami “Manungal” ??
2. Mohon bantuan definisinya secara “sastra Indonesia” ?
Bertitik tolaknya (harus berangkat dari angka 1)… inspirasi baru, ma kasih yach
8 May 2008 at 4:21 |
Waduhhh,… saya mulai pikun neeh (lupa linknya)
to: @All, maaf-maaf
http://haniifa.wordpress.com/2008/04/10/bagaimana-membayangkan-keberadaannya/#comment-228
9 May 2008 at 5:33 |
Yang menciptakan mekanisme bukan ’siapa’ tapi ‘apa’. Dan jawabannya adalah seleksi alam. Apakah seleksi alam kebetulan? No. Karena alam telah ada duluan sebelum evolusi kehidupan. Faktor lain yang lebih kecil dalam mengendalikan proses evolusi adalah mutasi dan kebetulan tersebut. Sebagai contoh tengkorak manusia berevolusi berbeda dengan homo neanderthal adalah terjadi secara kebetulan. Buktinya disini. Skulls Of Modern Humans And Ancient Neanderthals Evolved Differently Because Of Chance, Not Natural Selection
Versi bahasa indonesianya disini Tengkorak manusia modern dan Neanderthal purba berevolusi berbeda karena kebetulan, bukan seleksi alam
Sesuatu di alam semesta tidak perlu pencipta bila alam semesta ada untuk selamanya.
Titik satu sebagai pangkal akan benar untuk himpunan bilangan asli, tapi tidak untuk bilangan itu sendiri. Karena garis bilangan membentang dari tak terhingga negatif hingga tak berhingga positif.
Gagasan bahwa evolusi di kendalikan tuhan mengalami kekurangan serius karena melanggar prinsip pisau cukur ockham. Ini adalah prinsip logika bahwa asumsi dasar tidak boleh di lipat gandakan di luar kebutuhan. Bila gaya2 alam sendiri telah cukup untuk mengendalikan evolusi, kenapa harus menambahkan tuhan disitu? Tuhan adalah berlebihan. Adalah lebih sederhana untuk tetap pada hal2 yang dapat di amati dan terukur dari gaya2 alam.
Gagasan bahwa tuhan mengendalikan evolusi akan tampak melibatkan ketidakdewasaan emosional yang membuat manusia tidak mampu menerima fakta bahwa mereka mungkin sendirian di alam semesta ini, sehingga mereka harus menemukan makna dan tujuan dari setiap orang yang telah tiada – baik manusia atau bukan – dimana mereka berbagi planet dengan mereka. Kepribadian yang dewasa dapat menerima dunia sebagai mana adanya : Tidak di ciptakan dan Tidak sadar akan dirinya sendiri. Hanya dibatasi oleh hukum alam, pikiran yang dewasa dapat memanfaatkan apa yang ia bisa “untuk memahami skema ini secara keseluruhan” dan kemudian “menyatukannya dengan hati”.
9 May 2008 at 5:38 |
Link yang bahasa indonesia itu lupa di copas. Disini Tengkorak manusia modern dan Neanderthal purba berevolusi berbeda karena kebetulan, bukan seleksi alam
10 May 2008 at 12:14 |
@daeng:
bagaimana dengan penemuan Edwin Huble (1929) bahwa bintang-bintang itu memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya –yang disimpulkan bahwa bintang-bintang menjauhi kita sesuai efek dopler? hal tersebut mendukung teori big bang bahwa alam semesta dahulu tidak ada –kemudian di-adakan oleh Yang MAHA ADA [mutlak harus ada]–, kemudian ada dan akan berakhir pada suatu masa (masih lama –menurut manusia).
apakah sesuatu yang “mungkin” bisa menjadi “fakta”?
@haniifa:
manunggal: (kata kerja) menjadi satu dalam sikap dan tingkah laku; luluh (bercampur, berpadu) sehingga tidak terpisahkan.
ya kita hidup memang harus ada “pijakan”nya, ya Yang Maha Satu
11 May 2008 at 4:10 |
teori big bang bukan mengatakan kalau alam semesta itu dulu tidak ada, tetapi alam semesta itu dulu pernah meledak dalam satu ekspansi luar biasa besar.
Bila kita tarik balik mundur hingga ke masa ledakan. Kita akan temukan bahwa alam semestabegitu kecilnya. Sains eksperimental mencapai titik ini tentunya tidak mutlak nol, tapi pada waktu planck. 10^-34 detik. Sebelum itu sains tidak tau apa2 kecuali perangkat teoritisnya. Kemungkinannya.
1. Alam semesta terus mengerut hingga nol dan setelah itu mengembang lagi
2. Alam semesta terus mengerut hingga nol dan tidak ada apa2 lagi
3. Alam semesta terhenti di waktu planck dan mengembang lagi
4. Alam semesta terhentu di waktu planck dan tidak ada apa2 lagi
Saat berangkat ke perangkat teoritisnya, fisikawan cederung untuk berat ke pilihan tiga, yaitu alam semesta bukannya terus mengerut ke masa lalu, tapi mengembang lagi. Artinya alam semesta kita mengembang, mengerut, mengembang, mengerut, mengembang, mengerut dst dst tanpa awal tanpa akhir. Perngkat teoritis ini disebut Loop quantum gravity. Disini dapat sudara pelajari
LOOP QUANTUM GRAVITY: LEE SMOLIN
11 May 2008 at 4:23 |
“unimagine small and unimagine hot”, itu menunjukkan sesuatu yang padu, sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Anbiyaa’: 30, sebagai berikut
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”
12 May 2008 at 2:20 |
Namun anehnya bumi dahulu diciptakan baru langit
12 May 2008 at 5:10 |
Evolusi langit dan bumi terjadi pada waktu yang sama, dengan
kait mengkait antara fenomena-fenomena. Oleh karena itu tak
perlu memberi arti khusus mengenai disebutkannya bumi
sebelum langit atau langit sebelum bumi dalam penciptaan
alam. Tempat kata-kata tidak menunjukkan urutan penciptaan,
jika memang tak ada penentuan dalam hal ini pada ayat-ayat
lain.
15 May 2008 at 3:32 |
Jadi apa maksud ayat ini
41:9-12
28 May 2008 at 4:39 |
ionosphere says : I absolutely agree with this !
18 June 2008 at 10:53 |
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Agrarianism
.
14 August 2008 at 10:56 |
@daeng:
penafsiran tentang Al-Quran setiap zaman itu berbeda, tergantung dari tingkat keilmuan orang yang menafsirkannya.
@ionorsphere & agrarianism:
thanks for visiting!
12 October 2009 at 11:45 |
ak sering m’alami deja vu, contohnya dalam ramadhan yang lpas, ak mimpi dibawa arus deras dalam satu bangunan kemudian tersangkut pada dahan pokok ditepi gaung. mimpi tu m’beri kesan mendalam dan wat ak terasa dekat dengan kematian. selang seminggu indonesia digemparkan dengan tragedi gempa dan amerika dilanda tsunami. gambar2 kejadian gempa dalam surat khabar sama dengan tempat kejadian dalam mimpi aku. ak bersyukur sebab ak anggap ni semua peringatan dari tuhan!