6 February 2009
Dahulu, sebelum kelas 2 SMP, saya amat takut menghidupkan komputer. Karena saya takut bila komputer orang lain yang dipakai itu rusak. Namun ketakutan itu berangsur menghilang semenjak seorang kerabat ayah (terima kasih Mbah Bagiono Jokosumbogo) saya memberikan kami komputer pentium 120 MHz, RAM 16 MB, 1,2 GB HD. Kala itu hati saya sangat senang, karena saya dapat menghidupkan komputer tanpa takut rusak.
Setelah komputer itu menyala, saya bertanya pada ayah saya: ini apa ya? “keyboard” jawabnya, ini apa yah? “monitor” jawabnya. Kemudian saya pun klik-klik sana-sini dengan alat aneh yang bernama mouse. Beberapa minggu berlalu, ayah saya memperhatikan kecenderungan saya bermain komputer tua itu. Kemudian ayah saya memberikan saya sebuah buku ” Menjadi Mahir Tanpa Guru, Visual Basic 6.0″, (penulisnya saya lupa, terbitan Elexmedia).
Read the rest of this entry »
6 Comments |
Generasi Arsi |
Permalink
Posted by Zulkarnaen Arsi
13 December 2008
Kasihilah Tuhan; maka Dia akan mengasihi kita. Kasihilah orang tua; maka dia mendoakan kita. Hidup yang tidak berilmu, sebagai pohon tak berbuah.
Jadilah manusia yang berbakti kepada Allah, Ibu-Bapak, saudara/famili dan bangsa serta negara. Kerjakanlah shalat, karena shalat adalah membedakan kita dengan hewan yang melata, shalat adalah menjauhkan kita dari perbuatan yang dimurkai Tuhan dan Umat Islam.
Anakku Ali: kalau pandai meniti buih, selamat kita ke seberang. Dunia ini adalah fana. Camkanlah anakku!
Itulah kutipan kata-kata nasihat dari Andung (nenek) Sa’adah Maksum -ibu dari ayah saya- kepada keponakannya, Ali, ketika sedang berada di kapal Rinjani pada tanggal 21-2-1988.
Andung saya telah wafat ketika saya masih kecil. Namun kata-kata nasihatnya kepada paman saya itu terasa sangat bermakna dalam. Hidup ini fana.
Menurut kamus besar bahasa indonesia, fana bermakna “dapat rusak, tidak kekal”. Rusak adalah suatu keadaan ketika sesuatu tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Dapat pula rusak diartikan berubahnya sesuatu dari kondisi relatif normal menuju kehancuran. Dunia ini adalah fana, dapat bermakna bahwa kehidupan dalam dunia ini dinamis, berubah-ubah. Begitu pula dengan hati, pikiran manusia yang berubah-ubah sejalan dengan waktu. Menurut saya, karena itulah alm. Andung menegaskan pentingnya mengerjakan shalat.
Shalat khusyuk adalah meditasi tertinggi dalam Islam. Dengan shalat khusyuk pikiran kita menjadi tenang, tidak berubah menuju kehancuran. Sehingga tepat dikatakan bahwa shalat membedakan kita dengan hewan yang tidak punya pikiran.
Pemirsa budiman, marilah kita tegakkan shalat. Dengan menegakkan shalat, kita menjaga pikiran kita tetap stabil. Dengan stabilnya pikiran kita, stabil pula perbuatan baik kita. Sehingga bangsa dan negara kita akan tetap stabil menuju kemakmuran! Semoga. Wallahualam.
Leave a Comment » |
Generasi Arsi |
Permalink
Posted by Zulkarnaen Arsi
29 September 2008
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al Baqarah [2]:164).
Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka “. (QS. Al ‘Aqla [96]:15-16).
Ungkapan “ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka” dalam ayat di atas sungguh menarik. Penelitian yang dilakukan di tahun-tahun belakangan mengungkapkan bahwa bagian prefrontal, yang bertugas mengatur fungsi-fungsi khusus otak, terletak pada bagian depan tulang tengkorak. Para ilmuwan hanya mampu menemukan fungsi bagian ini selama kurun waktu 60 tahun terakhir, sedangkan Al Qur’an telah menyebutkannya 1400 tahun lalu. Jika kita lihat bagian dalam tulang tengkorak, di bagian depan kepala, akan kita temukan daerah frontal cerebrum (otak besar).
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Ensiklopedi Islam - Indahnya Shalat bersama Abu Sangkan |
Permalink
Posted by Zulkarnaen Arsi
29 September 2008
Sahabat-sahabat Rasulullah adalah generasi terbaik ummat ini. Mereka terus belajar dari Rasulullah apa-apa saja yang harus dikerjakan dan apa saja yang mesti mereka tinggalkan. Soal menjaga lurusnya niat di dalam hidup dan perjuangan mereka, tak bosan-bosan para sahabat itu berguru kepada Rasulullah. Seperti dikisahkan oleh Umamah radhiyallahu ‘anhu.
Ada seorang laki-laki yang datang menemui Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, Apakah pendapat engkau tentang seseorang yang berperang dengan tujuan mencari pahala dan popularitas diri. Kelak, apa yang akan ia dapat di akhirat?” Rasulullah menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa “.Orang itu mengulangi lagi pertanyaannya sampai tiga kali. Tetapi Rasulullah tetap menjawabnya, “Ia tidak menerima apa-apa!” Kemudian beliau bersabda, Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan, kecuali yang murni dan yang mengharapkan ridha-Nya. (HR. Abu Daud dan Nasa’i).
Dalam kesempatan lain Abu Said Al-Khudri telah mengambil pelajaran berharga dari Rasulullah pada saat haji wada’.
Read the rest of this entry »
2 Comments |
Ensiklopedi Islam - Indahnya Shalat bersama Abu Sangkan |
Permalink
Posted by Zulkarnaen Arsi